Awal Filsafat Islam
Oleh: Zainun Kamal
Di dalam Islam, filsafat termasuk salah satu kajian Islam klasik. Kajian Islam klasik itu antara lain fiqih, kalam, filsafat dan tasawuf. Dalam konteks ini, filsafat termasuk kajian yang kontroversial. Sebagian ada yang mengharamkan, dan sebagian lainnya membolehkan. Filsafat terjebak dalam pro dan kontra. Mereka yang pro-filsafat tentu saja mempelajari kajian filsafat, sedangkan yang kontra-filsafat menentang kajian ini. Biasanya yang menentang kajian filsafat yaitu kaum Islam tradisionalis (pesantren). Orang-orang yang mempelajari filsafat sering dianggap kafir oleh kaum tradisionalis ini. Bahkan, saya contohnya, tidak hanya dianggap murtad, tetapi juga dianggap memurtadkan orang lain. Dalam sebuah buku yang berjudul Pemurtadan di IAIN, saya dituduh telah memurtadkan orang-orang IAIN (UIN).
Mengapa filsafat termasuk kajian yang kontroversial, karena filsafat merupakan barang “impor” dari luar Islam. Filsafat tidak lahir dari ajaran Islam. Pada masa Nabi, tidak ada kajian filsafat. Nabi sendiri memang tidak mempelajari filsafat. Jadi, mungkin dalam bidang filsafat, kita lebih pintar dari Nabi. Apalagi jika dibandingkan dengan para sahabat (Nabi). Mereka tidak mengerti filsafat. Akan tetapi dalam perjalanannya, saat Islam melebarkan sayapnya ke luar jazirah Arab, Islam sampai ke Persia, Mesir, Syam, Irak, dan daerah lainnya. Sebelum datangnya Islam, daerah-daerah ini sudah merupakan kantong-kantong pemikiran filsafat. Di Mesir sudah berkembang filsafat, dengan berpusat di Iskandariah. Di Syam dan daerah lainnya pun telah berkembang filsafat. Saat Islam sampai di sana, terjadi dialog dan polemik. Ternyata Islam selalu kalah dalam setiap polemik. Ini dikarenakan nalar umat Islam yang tidak berjalan. Umat Islam hanya terbiasa mengkaji hadits dan fiqih saja. Umat Islam tidak bisa menjawab kajian-kajian filsafat. Karena itulah, mau tidak mau, akhirnya umat Islam mempelajari filsafat hingga mengembangkannya. Dikarenakan filsafat merupakan “barang impor” maka sampai sekarang, bagi ulama dan umat Islam, filsafat tetap menimbulkan pro dan kontra. Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menyikapi kajian filsafat, maka kita seharusnya mempelajari terlebih dahulu “filsafat itu apa?”.
Filsafat merupakan usaha akal pikiran yang radikal, universal, dan integral. Filsafat berbeda dari ilmu lainnya yang bersifat partikular. Contoh pertanyaan filsafat tentang “Manusia itu siapa?”, sejak awal kajian filsafat yang mempertanyakan hal ini sampai sekarang, pertanyaan ini tidak pernah selesai dipertanyakan. Dengan demikian, filsafat ialah dasarnya ilmu pengetahuan. Filsafat tidak terikat dengan sistem nilai, sosial dan budaya apapun. Termasuk di dalamnya adat, kebudayaan, keyakinan, kepercayaan, agama, dan moral. Tujuannya hanya mencari kebenaran akhir sebatas kemampuan akal manusia. Jadi, sumber kebenaran filsafat adalah akal pikiran. Ini jelas berbeda dari sumber kebenaran agama yang berasal dari wahyu. Bagi saya yang mempelajari filsafat, maka saya mengakui bahwa sumber kebenaran adalah akal pikiran. Bila agama tidak sesuai dengan filsafat, maka saya tolak kebenaran agama. Tapi bila sebaliknya, maka saya pasti menerima kebenaran agama tersebut.
Sampai di sini, kita bisa pahami bahwa filsafat masuk ke dunia Islam sejak Islam ekspansi ke luar wilayah jazirah Arab. Padahal, saat Islam hanya berada di kawasan Mekah dan Madinah, umat Islam hanya berpegang pada tafsir saja. Para sahabat hanya berusaha menebak-nebak makna teks al-Qurán. Tentu saja, saya bisa katakan, bahwa kita tidak perlu mengikuti ajaran sahabat yang seperti itu. Sudah kadaluwarsa. Masa masuknya filsafat ke dunia Islam ternyata melahirkan banyak pemikir brilian yang berasal dari umat Islam sendiri. Tokoh-tokoh tersebut contohnya Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Maskawih, Abu Bakar Ar-Rabi, dan sebagainya. Khusus tentang Ar-Rabi, dia sangat radikal sekali. Ar-Rabi tidak percaya kenabian. Bahwa Nabi tidak diperlukan.
*
Transkrip Ceramah Zainun Kamal tentang Filsafat Islam Oleh: Bahrul Haq Al-Amin